Salju di bulan April

“Good morning !”

Sosok itu menyeruak dari balik pintu. Wajahku yang kutempelkan di meja pertama kali menangkap sepatu converse biru yang dia pakai.

Sepatu converse warna biru laut dengan garis-garis putih.

Pandanganku beralih semakin ke atas dan kutemukan senyum tipis yang sering bertengger dibibir itu, tersenyum untukku.

Dia sempurna.

Well, memang terkadang dia muncul di kelas dengan muka lusuh berbau bantal, seperti hari ini. Namun matanya tetap saja indah. Sorotnya masih tajam, menghujam.

Dan tawanya masih bagaikan surga.

Good morning. I love you, batinku.

#
Tokyo beranjak hangat. April datang, sakura sudah hampir berlalu karena ratu musim semi itu telah muncul sebelum waktunya dan ia tak mampu hidup terlalu lama. Meninggalkan dahan-dahannya yang kokoh, sendirian.

Aku melewati sakura gate, begitu biasa tempat itu disebut, sebuah area di depan bangunan utama universitas. Sakura berjajar di kanan dan kiri membentuk setapak jalan diantaranya, seperti sebuah gerbang yang terlihat menakjubkan di setiap musim. Perasaanku selalu berubah melankolis ketika melewati tempat ini. Sakura yang kokoh seakan berada disana untuk memamerkan pesonanya. Setapak yang sengaja dibuat dari kayu membunyikan nada indah ketika beradu dengan sepatu. Dan hamparan rumput di bukit kecil disebelah kanan sakura gate selalu ramai ketika hari cerah dan cuaca sudah beranjak menghangat.

Aku memasuki bangunan utama yang berumur 80 tahun itu dengan perasaan berkecamuk. Kuhentikan langkah kakiku ketika ia tepat sampai didepan tangga. Otakku sibuk memutuskan apakah aku akan naik atau tidak.

Aku melangkah naik dengan ragu. Kakiku mendapatkan dua anak tangga dan berhenti. Ia berjalan lagi dan berhenti lagi di anak tangga kelima. Kukutuk ia tanpa menyadari bahwa ia berhenti tak lain karena perintah otakku yang sedang sedikit gila.

Aku sampai di depan sebuah ruangan bertuliskan nama professorku. Sekali lagi otakku berusaha memaksa hatiku untuk mengijinkannya membuka pintu, dan hey, kau akan melihatnya!

Dia berhasil memaksanya.

Ada dia disana. Sepatu converse biru laut itu saling menopang di ujung kakinya yang terjulur panjang. Tubuhnya merebah, lengannya menelungkup menutupi wajahnya yang ia tempelkan di atas meja.

Aku bergerak pelan, setengah hati berjalan kearahnya. Tubuhku mendarat di kursi disampingnya. I am not approaching him. This is my seat, okay? Tepat disampingnya.

Kudengar lirih nafasnya. Oh, dia tidur. Suara lirih nafasnya merdu, dan mataku tak bisa beralih dari punggungnya yang sedikit naik turun sesuai irama nafasnya. Dia terlihat begitu damai ditidurnya. Kurasa di detik ini perasaanku padanya bertambah 10% dari sebelumnya.

Tak ada orang lain hari ini di lab. Tidak aneh karena liburan musim semi masih belum berakhir setidaknya sampai minggu depan. Meskipun bagi kami mahasiswa master tahun kedua, liburan musim semi tak lain adalah ilusi belaka.

Aku melirik food container plastik berbentuk kepala beruang di dalam tasku. Setelah hampir membuat dapurku berubah menjadi seperti sebuah daerah konflik yang sedang dilanda perang, akhirnya aku berhasil membuatnya; 3 potong cookies berbentuk beruang imut yang terlihat paling bagus, kusisihkan dari sejumlah 20 cookies yang sebenarnya kubuat. Untuknya.

Sekali lagi aku meragu. Sebenarnya aku sudah mengajak hati dan otakku berunding dalam satu minggu yang sleepless kemarin, dan kami memutuskan bahwa aku harus memberikan cookies ini padanya. Kami bahkan juga sudah memutuskan stasiun mana yang harus kugunakan untuk menabrakkan diri dikereta kalau-kalau ia menolak dan tak bersedia menerima cookies dariku, hehe.

Satu jam berlalu tanpa sedikitpun aku bergerak. Dan tiba-tiba tubuhnya bergerak, membuatku harus menahan nafas. Tangannya beralih dari mukanya dan kini, bisa kulihat dengan jelas wajah itu. Matanya yang tertutup menunjukkan bulu matanya yang panjang. Kulihat juga embun yang terbentuk dari hembusan nafasnya. Keningnya berkerut, namun sejenak kemudian bibirnya membentuk senyum. Aku tertawa kecil, gemas pada pemandangan itu. Kamu sedang mimpi apa?

Aku berdiri. Kuambil kotak kecil berbentuk beruangku dan kudekap didadaku. Aku berjalan mantap dan melongokkan wajah di depan kulkas dan meletakkan kotak itu di dalamnya. Tiba-tiba hembusan udara dingin dari kulkas menerpa mukaku, seperti menyadarkan aku akan perasaan tak nyaman yang hampir saja kulupakan. Kututup segera dan meninggalkan perasaan tak nyaman itu. Aku keluar lab tanpa suara, berlari di lorong dan menuruni tangga dengan tak sabar. Jantungku berdegup kencang.

Keringat dingin menetes di balik pakaianku, dan angin yang berhembus di luar membuat keringat dingin itu semakin terasa tak nyaman. Aku meremas tanganku dan kutarik nafas berkali-kali.

Angin berhembus sekali lagi, dan kali ini agak kencang. Ia menghembus wajah dan memainkan rambut yang berusaha kutahan dengan sebelah tangan. Kukeluarkan telepon genggam dari dalam kantong dan jariku menekan-nekan, mencari draft pesan yang sudah kusiapkan tadi malam.

Hei, ada kotak kecil berbentuk beruang di kulkas lab kita. Itu untukmu. Thanks.

Kutekan tombol send.

Angin berhembus lagi, kali ini ia terasa lembut membelai, memainkan sisa-sisa helai sakura yang telah berubah coklat dan mengering terhampar di jalan berkayu sakura gate. Anak-anak kecil bermain riang di bukit rumput hijau, tertawa-tawa ceria, berlari-lari, dan masih tertawa walau tersungkur beberapa kali. Jalan kayu masih memainkan nada yang sama bersama kaki-kaki yang beradu diatasnya.

Strangely enough, snow is suddenly falling. Seperti sebuah keajaiban, ia datang diwaktu yang tepat dan memanjakan hatiku yang mulai menghangat di bulan April. Sang angin membawanya, membelai, memutar-mutar mengajaknya menari di udara. Aku mendongakkan kepala dan butiran surga itu menitik di ujung hidungku. Kuusap dan kupandangi lelehannya di tanganku.

Kugenggam lelehan itu dan kudekatkan didada.

Thanks. I love you.

Kataku dalam hati, dengan seperti biasanya kuungkapkan perasaanku padanya.
Dalam hati.

– Maret, 2014. Untuk seorang teman yang sedang jatuh cinta.

Advertisements

4 thoughts on “Salju di bulan April

  1. Ohayo ^^
    I had to translate this article in order to have an idea of what is it about :p
    Great romantic story >< thanks for sharing 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s