In a rush

It came over me, in a rush.

“Hot chocolate with lemonade.”

Aku diam saja. Mengamati gadis itu membolak balikkan daftar menu selama seperempat jam dan akhirnya menyebutkan pesanannya. Coklat panas dengan lemon. Uh, aku tak pernah tahu minuman apakah itu.

“What kind of beverages is that?”


“Of course you don’t know. You’ll only drink coffee in your whole life.” Tatapan datarnya menunjukkan ekspresi sarkasme. Dia tahu aku tidak pernah meminum apapun kecuali kopi. Mungkin hal ini juga yang membuat ginjalku protes belakangan ini. Aku rasa aku akan mati muda.

“You know, you’ll die young if you drink more coffee this year too.”

Oh. She got my point.

Dia kembali pada kegiatannya, menelusuri rangkaian filosofi dalam dunia Shopie. Aku berhenti membaca buku itu pada halaman ke 50; dia membacanya berulang-ulang, berkali-kali. Aku menganggap buku itu aneh; dia menuhankannya. Aku rasa dia lebih mencintai Jostein Gaarder daripada hidupnya.

Aku memilih kembali mengamatinya daripada berbincang dengannya. Semua hal sudah pernah aku diskusikan dengannya, mulai dari perbincangan mengenai motif dan prinsip ekonomi hingga pengaruh fourier transformation pada aperiodic signal. Hanya soal klenik yang tidak kita diskusikan dengan alasan dia terlalu takut bahkan pada film hantu anak-anak.

Dia masih secantik hari pertama aku melihatnya di kafe ini. Bekerja sebagai fashion photographer mengharuskanku bertemu dengan 90% spesies wanita cantik yang ada di Indonesia. Tapi, hanya tawa lepasnya yang bagaikan surga. Aku menghabiskan sisa waktuku mengaguminya.

It came over me, in-a-rush,
when I realized that I-love-you-so-much.

“Hey..”
“Hmm?”
“How if there are no more things we could share?”

She laughs. My heaven.

“You could just stay silent. Like right now.” Dia memandangku tak berkedip. Aku bisa tenggelam di mata indah itu berjam-jam.

“Please order me the same drink as yours.”
“Lemonade chocolate… instead of coffee??” Dia terhenyak.

Aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin mati muda karena aku masih ingin mengatakan banyak hal padanya. Bahwa aku mencintainya. Bahwa bagiku, dia begitu cantik. Bahwa aku ingin hidup bersamanya.
Bahwa bagiku, dia surga.

..I can’t tell you why.. why I feel, what I feel, inside..

Advertisements

2 thoughts on “In a rush

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s