Beauty

DIA tidak cantik. Ah, sama sekali tidak cantik. Dia berjalan seperti laki – laki. Suaranya keras. Satu – satunya yang cantik dari dirinya hanyalah kenyataan bahwa dia menaiki motor gedhe ninja berwarna hijau impianku selama ini.

Namun kenyataan itu semakin menambah ketidak-perempuan-an dalam dirinya.

“Heyy, aku suka sama kamu.” Katanya kemarin, ditengah perjalananku dari supermarket. Motornya menghadangku. Aku melengos. Menepi, lewat disampingnya tanpa menengok padanya lagi.

Dia turun dan mengejarku. Dalam sekejap tanganku telah ditariknya.

“HEY!!”

“Apa sih?!” Aku menghempaskan tangannya. Tak kalah keras dengan tarikan tangannya tadi.

“Aku suka sama kamuuu.”

Pfiuhh. Aku menghembuskan nafas, berat. Ini yang ketiga kalinya.

“Kamu lihat itu?” Aku menunjuk pada siluet bayangan kami di cermin besar rumah diseberang jalan. “Kau sungguh bukan tipeku. Kamu kurang cantik, owh, well, kamu tidak cantik.”

“Apakah aku harus cantik untuk suka sama kamu?” Katamu membesarkan mata.

Oh, jelas, jawabku dalam hati. Look how good I am.

“Aku suka perempuan cantik.”

“Sesuka apa?”

“Lebih suka dari apapun juga.”

“Begitu?”

“Ya.”

Dia memiringkan kepala, bibirnya melebar membentuk senyum.

My mom said I am pretty.

“BWAHAHAHA. Semua mama akan mengatakan bahwa anak perempuannya cantik. Ah, kau ini.” Aku tidak dapat menahan tawa sinisku. Sekejap kemudian tawaku berhenti, aku langsung membalikkan badan dan pergi. Dalam hati, aku menghitung mundur sampai dia berteriak – teriak dan memanggilku lagi seperti biasa ketika aku menolaknya.

 

Satu, dua, tiga…

 

Tidak ada teriakan. Tidak seperti biasanya. Okay, cukup sakit hati kah kau sekarang?

##

Dorr! Dorr! Doorr!

AK-47 mengeluarkan isi perutnya beruntun, menimbulkan bunyi gaduh khas memekakkan telinga. Layar berganti – ganti dengan cepat, dan refleksi didalamnya menampilkan makhluk – makhluk ciptaan manusia yang saling membunuh dengan cepat.

 

Aku menggebrak keyboard komputer.

Karakter yang aku mainkan terkapar–berdarah darah. Point Blank sudah tidak memberiku kepuasan lagi.

Aku memejamkan mata, dan entah oleh bagian otakku yang mana, saraf memoriku digiring untuk mengingat yang tidak ingin aku ingat.

##

“Apa yang kamu sukai dari aku?” Tanyamu, mengerling padaku.

“Ada dehh. ”

“Hahah… Kau bohong. Kau tidak tahu kenapa kan?”

Sejujurnya karena aku memang tidak bisa menjawab pertanyaannya.

“Sudahlah. Aku mencintaimu. Perlukah alasan?” Jawabku.

“Tentu saja perlu. Karena kau seorang aktor dan model super tampan yang mencintai perempuan super gendut.” Kau berkata datar.

“Berhentilah dengan hiperbola – hiperbola itu, Sayang.” Kataku. Kamu masih diam.

“Kita bisa menjadi beauty and the beast. ” Kataku lagi, berusaha memancing senyummu.

Dan kaupun tersenyum.

 

Aku selalu mengira senyum itu menunjukkan konsistensi dirimu untuk selalu bersamaku. Oh, well, bertahan bersamaku. Tidak seperti embun yang meluncur pelan dari dedaunan, airmatamu mengalir deras di sisa pagi itu.

“Aku tidak tahan lagi… Semua menghinaku! Mereka bilang aku perempuan tak tahu diri berani mendekatimu, mereka menyebutku macam – macam. Mereka bilang aku manfaatin kamu…”

 

Kau berkata lagi, ”Aku tidak mau seumur hidupku menerima penghinaan seperti ini..”

 

Dan kau belum berhenti, “Jangan pernah kamu menyukai perempuan jelek lagi. Karena, kau tahu? Kamu hanya akan menyakitinya.”

 

Kau memintaku meninggalkanmu.

##

Tidak ada yang disebut dengan inner beauty, karena perempuan sendiri tidak mau mempercayainya. Konsep inner beauty hanya ada dibenak laki-laki naif seperti aku. Seorang perempuan sekuat apapun tidak akan pernah kuat dengan sentilan miring  pada fisiknya. Setiap perempuan akan pernah memiliki malam dimana mereka berdiri dan mencoba berbagai jenis kosmetik, mematut-matut diri dan tersenyum genit pada cermin. Aku tidak pernah melihat seorang perempuan berdasar fisiknya, paling tidak, sebelum perempuan yang paling aku cintai meruntuhkan seluruh konsep yang pernah aku percayai itu.

 

Aku mengenal perempuan bermotor ninja itu dari wawancara yang ia lakukan denganku beberapa bulan yang lalu. Dia seorang reporter. Dan entah mengapa setelah itu, perempuan itu sedikit gila, mendekatiku, menggangguku, menyatakan cinta padaku.

 

Aku melirik handphone yang tidak kunjung berdering untuk kesekian kalinya. Biasanya dia akan berdering, dan suara cemprengnya akan menyakiti telingaku sampai aku memutus teleponnya dengan tiba-tiba karena bosan pada ceritanya. Malam – malam seperti ini selalu berulang. Malam dimana aku menghabiskan waktu dengan menggebrak keyboard komputer dan membiarkan otak membawaku bermain – main dengan masa lalu. Dia tidak meneleponku malam ini, aku sudah menebaknya. Seorang perempuan yang mengaku sangat menyukaiku akan berubah dalam sekejap setelah sedikit mendapatkan hinaan pada fisiknya dariku.

Dan aku tidak pernah mengira bahwa dia akan berbeda dengan perempuan lainnya. Dia tetap sama lemahnya seperti perempuan – perempuan yang lain. Mungkin asosiasi perempuan sedunia akan membunuhku jika mereka mendengar pendapatku yang general terhadap mereka–biarlah.

 

Mungkin aku tidak akan menikah.

 

 

#

Malam itu perempuan itu cekikikan sendiri di dalam kamar, memikirkan kejutan baru yang telah ia siapkan untuk keesokan harinya. Entah cara keberapa untuk kembali mencoba menyentuh hati laki-laki yang dia cintai.

Dia benar – benar jatuh cinta pada aktor itu, segera setelah ia tahu bahwa laki-laki itu memiliki cara pandang yang berbeda terhadap perempuan. Dia mengenali pola yang laki-laki itu lakukan pada setiap perempuan yang menyatakan cinta padanya. Termasuk pada dirinya. Dia mengamatinya. Dia mengamati perempuan – perempuan yang pernah menyukai laki-laki itu. Dia mengerti sakit hati laki-laki itu–tanpa kata.

 

Dia mengerti kenapa laki-laki itu terasa begitu hangat – walaupun ia terkenal sebagai seorang aktor yang dingin dan angkuh – pada wawancara dengannya beberapa bulan lalu.

 

“Anda seorang aktor yang terkenal. Kenapa Anda menawarkan diri untuk ikut bermain di teater anak-anak ini? Anda suka anak-anak?”

“Haha.. tidak juga. Sederhana saja, saya cukup tertarik dengan cerita yang akan dimainkan malam ini.”

“Anda suka Beauty and the Beast?”

“Gak juga. Hanya saja…”

“Ya?”

“Hanya saja, Beauty and the Beast  punya ending yang bahagia. Kisah seperti ini membuatku bermimpi, sejenak meninggalkan dunia yang tidak ada seorangpun yang mau bermimpi didalamnya…”

Dan laki-laki itu tersenyum, senyum hangat yang sangat membekas di hati perempuan itu.

 

-April 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s