Harmoni

#Sebuah klub malam.

“Yui. Lima menit lagi. Okay?” Seorang laki-laki melongok dari balik gordin. Perempuan yang dipanggil Yui itu tidak beranjak dari cermin; Ia memberi anggukan yang terefleksi pada cermin sebagai jawabannya.

Perempuan itu kembali berkutat dengan cermin. Menggulung sebagian rambutnya dengan jemari, menciptakan riak gelombang. Sejurus kemudian ia berdiri anggun, berjalan angkuh.

Ia terlihat seperti seorang putri.

Raut keangkuhan berganti dengan kerlingan mata ketika tubuh semampainya berhenti ditengah panggung. Ia melepaskan cardigannya perlahan, menyisakan gaun merah panjang tanpa lengan yang membalut sebagian tubuhnya. Tubuhnya bergerak pelan, mulutnya melantunkan lagu, berdendang ceria.

Perempuan itu membuka mata, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan. Seorang pria setengah baya yang sedari tadi memelototi dirinya, oh well, tubuhnya. Pria gemuk dan wanita kurus tinggi dengan muka tirus dan bibir yang terlalu merah. Perempuan-perempuan cantik dan oh… pelacur laki-laki?

Yui tidak dapat menahan matanya untuk melihat ke wajah laki-laki itu. Muda. Tampan. Tangan kanannya melingkar di bahu salah seorang perempuan yang mengelilinginya. Tangan satunya memegang gelas berisi minuman berwarna merah.

Coca cola? Yui tertawa kecil.

Di detik yang sama, Alan – nama laki-laki itu, menangkap sepasang mata yang tengah menatapnya. Sepasang mata milik Yui.

Hmm, orang cina? Alan mendapati bahwa sepasang mata yang memandanginya terlalu sipit untuk ukuran orang Indonesia.

Yui kembali fokus pada panggungnya. Kembali bernyanyi ceria, kembali mengerling. Meskipun sepasang mata kini mengganggunya, perempuan itu tetap berdendang, tetap bergoyang.

#Sebuah Klenteng di Bukit

Matahari pagi menuruni bukit. Sekawanan kabut berlarian, ketakutan, dan sekejap kemudian jatuh di pelukan dedaunan menjelma embun. Tanpa terburu-buru, Yui melewati anak tangga semen menuju ke bangunan yang ada diatasnya. Embun menitik di keningnya. Sebuah kelenteng dominan merah, dengan liukan-liukan naga putih pada setiap ujungnya. Kelenteng itu semarak dengan berbagai pemandangan disekitarnya. Pagar-pagar merah. Daun-daun pisang menguning. Batu besar berlumut. Lampion-lampion bergantungan, merah.

Yui sedikit mengangkat gaunnya yang menyeret tanah dengan satu tangan, sebelah tangannya menjinjing keranjang bambu kecil. Ia berhenti di tempat persembahyangan utama, tangannya menyajikan kue-kue dari dalam keranjangnya untuk para dewa. Sejurus kemudian Ia meletakkan lututnya dengan khusyuk, memejamkan mata. Bersembahyang. Hari ini adalah Cap Go Me. *

Yui membuka mata tiba-tiba. Tubuhnya merasakan ada orang lain didekatnya. Matanya melihat seorang laki-laki duduk membelakanginya, mulutnya mengunyah kue yang baru saja ia persembahkan untuk dewa.

“HEI! Apa yang kamu lakukan?!” Yui berusaha merebut kue tersebut. Tangan laki-laki itu menghindar dengan cepat.

Kemudian ia melanjutkan mengunyah dengan santai, “Toh, dewa tidak akan memakannya kan?”

Yui mengerutkan keningnya. Dia laki-laki yang bertatapan dengannya kemarin malam.

Yui kembali pada dewa. Memejamkan mata.

“Hei..”

“….Bukannya kamu bisa berdoa di rumah? Kenapa ke sini? Sepagi ini?” Laki-laki itu, Alan, mendekatkan wajahnya tepat didepan Yui. Memandanginya.

Benar-benar Cina, batinnya.

Yui membuka mata, menjauhkan wajahnya dari hadapan Alan dengan angkuh. “Aku tidak punya rumah.” Ia beranjak. Alan mengikutinya menuruni tangga kelenteng.

“Kau tidak punya rumah? Haa! Bukannya semua orang Cina kaya?”

“Tidak semua orang Cina kaya.”

Yui mempercepat langkah, dengan kedua tangan menggenggam ujung gaunnya. Hati perempuan itu berjalan lebih cepat daripada kakinya. Ia menginjak ujung gaunnya yang menyeret tanah yang tidak berhasil ia selamatkan dengan genggaman tangan. Tubuhnya melayang. Tangannya refleks menggapai mencari pertolongan.

Tangan itu menemukan tangan Alan.

“Kita duduk disitu?” Alan menunjuk pavilyun kecil didepannya.

Yui duduk dengan risih. Mata laki-laki itu tidak bisa lepas dari wajahnya.

“Kau benar-benar tidak punya rumah?”

“Aku tidak akan berdoa disini kalau aku punya rumah.”

“Hmm.. aku tidak tahu ya tentang bagaimana orang Cina berdoa pada waktu Imlek. Kupikir akan lebih manjur kalau kita berdoa dirumah ibadah.”

Yui diam.

“Lalu dimana kamu tinggal?”

“Di klub itu.”

“Diklub ITU? Maksudmu… di klub yang ITU?? Ya Tuhan… kau benar-benar miskin?”

Yui mengerutkan wajahnya marah, sebal, “Kau bilang aku miskin sekali lagi, kutendang kau.”

Alan terbahak-bahak, “Kenapa memang? Malu?”

“Aku cuma tidak mau dibilang miskin oleh orang yang juga miskin.” Yui mengangkat alisnya, merasa menang. Ia melanjutkan kata-katanya, “Orang miskin tidak akan minum cocacola ketika menemani tamunya di bar. Mereka tidak membayar minumanmu?”

Mata Alan melebar.

“Aku sedang diet.”

Yui tidak dapat menahan tawanya.

Sekawanan burung terbang tiba-tiba. Mereka bersuara gaduh, melengkapi suara surga tawa perempuan itu.

“Kamu jelek kalau tertawa.” Alan menunjukkan tampang jijik.

Yui mengerutkan keningnya sebal.

“Tapi kamu cantik ketika marah,” Alan tersenyum jenaka.

“Alan.” Alan mengulurkan tangan, tersenyum lebih manis.

Yui hanya memandang tangan itu.

“Yui,” Yui mengucapkan namanya dengan pelan, tegas, sambil mengalihkan pandangannya perlahan ke arah matahari yang mulai muncul.

Alan menangkap tangan Yui paksa, “Kamu perlu diajari sopan santun ternyata.”

Yui memandang jari-jari dua tangannya yang dipeluk erat oleh kedua tangan laik-laki itu. Yui merasakan panas mengalir ditubuhnya; panas yang tidak bisa ia terjemahkan. Dari matahari kah? Atau dari panas kedua tangan yang menggenggam tangannya?

Matahari semakin meninggi. Sinarnya yang kekuningan menerpa kulit kedua anak manusia itu. Tidak ada suara. Masing-masing menikmati sinar itu merasuki kulit mereka, menghangatkan jantung yang berirama pelan.

Beberapa orang melewati mereka. Hari mulai siang, kelenteng mulai ramai.

Yui dan Alan beranjak, berjalan beriringan menuruni klenteng diatas bukit itu. Lampion-lampion merah berayun-ayun jauh dibelakang mereka.

“Aku tadi bohong,”

“Ohya? Yang mana? Yang tentang aku jelek kalau tertawa?” Yui tersenyum lebar, hampir tertawa.

“Haha….”

“…aku minum cocacola karena tidak mau mereka memotong bayaranku untuk minuman yang lain yang lebih mahal.”

Yui berhenti melangkah.

“Kamu… semiskin itu?” Yui melebarkan matanya.

“Aku tidak mau dibilang miskin oleh orang yang juga miskin.” Alan berkata datar, tetap dengan gaya jenaka. Yui menyipitkan matanya yang sipit, bergaya mengancam. Perempuan itu tidak dapat menahan senyumnya.

“Yui.. nanti sore lihat barongsai yuk.”

“Tidak mau.”
“Kenapa? Takut?”

“Tentu saja tidak. Aku bukan anak kecil,” Yui menyipitkan satu matanya.

“Terus? Malu ketemu sama aku lagi?”

“Aku TIDAK mau ketemu sama kamu lagi Alaaaaan.” Yui berkata gemas. Yui beranjak pergi, berlalu.

“Datang ya. Orang Cina harus datang lihat barongsai!” Teriak Alan.

Yui tidak menoleh. Yui tidak ingin laki-laki itu melihat bahwa ia sedang tersenyum.

#Pentas Barongsai

Suasana hingar bingar.

Yui terjebak dalam suasana itu.

Sore mulai mendingin. Yui bersandar di batang sebuah pohon akasia di tepi jalan. Sepuluh menit lagi dan ia belum sekejap pun melihat sosok Alan.

Yui tidak ingin mencari Alan, karena seharusnya laki-laki itu ada disini tanpa ia harus mencarinya. Pandangannya menyapu sekeliling, ia menemukan banyak orang Cina disekitarnya. Tak satupun dikenalnya.

Musik khas yang mengiringi tarian barongsai mulai terdengar. Tarian barongsai dimulai. Memenuhi bumi dengan hentakan kaki penari, memenuhi langit dengan musik yang tak pernah membuat sepi hati.

Yui masih bersandar di pohon, ia menegakkan badannya mencoba melihat tarian itu dari pinggir sekawanan manusia yang membentuk lingkaran. Tarian sudah dimulai dan Alan belum menghampirinya. Perempuan itu sudah berhenti berharap. Ia tak ingin melihat pertunjukan itu lagi.

Beberapa menit berlali, dan salah satu barongsai berwarna merah melompat tinggi, berayun dengan indah di udara. Tubuh barongsai tersebut berdiri vertikal, dan sejenak menghentakkan kaki; secepat kilat menyapu udara diatasnya. Sekali lagi menghentak bumi, dan terbang berputar di udara seperti seekor naga api.

Yui dapat melihatnya dengan jelas ketika barongsai itu berputar di udara.

Yui bergegas menyeruak kerumunan lingkaran itu. Ada sesuatu menarik hatinya.

Yui terus berjalan ke depan, sedikit memaksa kerumunan itu untuk memberi jalan baginya. Ia ingin berada paling depan dalam lingkaran itu.

Barongsai berwarna merah berputar dan berhenti tepat didepan Yui ketika perempuan itu baru sampai di bagian paling depan kerumunan. Yui tersentak ke belakang.

Barongsai itu berputar pelan membentuk lingkaran kecil didalam lingkaran besar manusia itu. Semakin lama semakin cepat, dan tiba-tiba Yui tersentak terbawa tepat ke tengah lingkaran itu. Barongsai itu menariknya.

Si penari di dalam barongsai itu menariknya.

Yui terkejut dan berusaha kembali ke tempatnya semula. Barongsai itu mengelilingi, menahannya untuk kembali ke tempatnya.

Satu tangan muncul dari dalam kostum barongsai dan menariknya lagi, membawa tubuhnya mendekati mulut barongsai itu.

“Ayo kita menari.”

Yui mendengar bisikan itu. Satu mata Alan berkedip dari dalam mulut barongsai itu.

Yui masih tidak bisa berkata-kata, tubuhnya terhempas oleh tarikan tangan Alan dari dalam barongsai. Tubuhnya menari seirama dengan gerakan-gerakan barongsai yang mulai melembut.

Yui mulai menikmatinya. Ia tertawa-tawa. Tubuhnya ikut menari riang. Dengan tawa lepas. Tanpa kerlingan palsu seperti ketika ia menari di klub malam tempatnya bekerja.

Barongsai merah berhenti menari dan berjalan ke pinggir kerumunan. Alan keluar dari kostum itu, menarik tangan Yui mengajaknya berlari. Alan terus menarik tangan Yui menembus kerumunan lingkaran manusia itu.

Mereka berdua tertawa-tawa, sambil terus berlari meninggalkan hingar-bingar itu.

“Hahaha… Kau gila Alan!” Yui terengah-engah. Mereka berhenti dilapangan yang terang. Bintang-bintang, malam ini menjelma menjadi jutaan lampu yang menerangi bumi dengan cahaya kecilnya.

Alan merebahkan tubuhnya dan Yui duduk disampingnya. Kedua telapak tangannya menyandar tanah, menahan tubuhnya.

“Ohya? Kau lebih gila kalau begitu!”

“Kamu kok bisa jadi penari barongsai juga?”

“Aku kerja apa saja, Yui. ”

“Haha.. dasar pelacur. Kau selalu menjual tubuhmu.”

“HEII.. itu konotasinya jelek. Aku hanya menemani perempuan-perempuan itu, catat ya, hanya MENEMANI..”

“….dan juga menggendong mereka ke hotel kalau mereka mabuk dan menemaninya sampai pagi.” Potong Yui sinis.

“Kenapa? Cemburu?” Alan menggodanya.

Yui tidak bereaksi. Ia berkata pelan. “Kita sama-sama menjual diri.” Suaranya berubah sedih.

“Juga sama-sama miskin.” Alan langsung menyahut kocak.

Yui mulai tersenyum lagi.

“Yui, kamu boleh tinggal dirumahku.”

Yui menoleh bingung mendengar suara serius itu. Alan duduk disampingnya sekarang.

Alan membaca kebingungan itu. Ia berkata lagi, “Maksudku, kita bisa hidup bersama.”

Yui memiringkan kepala. Semakin tidak mengerti.

“Maksudku, ayo kita menikah.” Laki-laki itu mulai gugup.

Yui memandang langit dengan tatapan yang tidak Alan ketahui sedikitpun maksudnya.

“Kau serius?” Yui berkata tegas.

“Kau tahu, Yui? Aku sudah jatuh cinta denganmu sejak di klub malam itu.”

Yui masih tidak memandangnya. Ia menjawab, “Aku tahu.”

“Kamu tahu?” Alan terkejut.

Yui mengangguk, memandang ke arah Alan. Ia berkata lagi, “Karena aku juga jatuh cinta denganmu sejak di klub itu.”

Mereka berpandangan, dengan cara seperti ketika mata mereka pertama kali bertemu di klub malam itu. Namun, kali ini tidak hanya satu detik. Berdetik-detik terus mengalun tanpa tahu berapa lama dan untuk apa. Detik yang tentu saja tidak akan pernah kembali—namun terekam entah dimana; mungkin di otak; mungkin di hati.

Sekali lagi tubuh keduanya menghangat, hangat yang kali ini jelas diketahui sumbernya.

Bukan hangat matahari, karena malam hari tidak ada matahari.

Hangat yang tercipta dari keduanya.

“Ini untukmu.”

“Apa itu?”

“Angpau. Dasar bodoh. Jelas gitu.”

“Isinya?”

“Uang. Kamu kan miskin, Yui.”

“Kamu lebih miskin.”

“Haha.. kita sama-sama miskin. Sudahlah, ayo kita pulang.” Alan berdiri, menawarkan tangannya ke perempuan yang masih duduk disampingnya.

Yui menyambut tangan itu.

Semakin malam, semakin terang. Dan sebentar lagi pagi datang. Matahari mengusir kabut hingga turun dan menetes menjadi embun.

Hidup berputar lagi.

– April, 2011. Happy (Chinese) New Year! Saya suka orang cina 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Harmoni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s