l i t t l e f l o w 3 r …

Icon

..he said, i am sweet like an orange..

Sweet like an Orange *A Short Story*

Sebuah email. Today

To : alansmart@yahoo.com

From : littleyui@yahoo.com

Subject : Would you let me to see you?

Kak. Osaka Airport, 10 November. 23.30.

Solo, Hari ini.

Kampus UNS. Orang – orang bilang, Universitas Sebelas Maret. Tapi bagiku, UNS untuk Universitas Nomor Satu. Pada musim tertentu, kita bisa melihat jalan – jalan kampus penuh dengan lautan bunga – bunga kecil berwarna kuning. Yang bertaburan. Yang bertebaran. Ketika itu, kampus ini akan mengingatkanmu pada autumn season di negara 4 musim.


Dan ini selalu mengingatkanku padanya.

Ohya. Namaku Yui.

 

Oosaka, Today.

Oosaka Daigaku. Namaku Alan, Alan Smart. Dan mungkin karena namaku, aku menjadi cukup pintar untuk bisa kuliah disini dengan beasiswa.

Hari ini jalan – jalan di Oosaka penuh dengan dedaunan kering berwarna merah kuning dan oranye. Seperti dikampusku dulu, pohon – pohon akasia sering menjatuhkan bunganya yang begitu banyak sehingga memenuhi jalanan kampus. Itu indah sekali.

Dan musim ini mengingatkanku padanya. Read the rest of this entry »

Filed under: art and literature, ,

Beauty *A Short Story*

DIA tidak cantik. Ah, sama sekali tidak cantik. Dia berjalan seperti laki – laki. Suaranya keras. Satu – satunya yang cantik dari dirinya hanyalah kenyataan bahwa dia menaiki motor gedhe ninja berwarna hijau impianku selama ini.

Namun kenyataan itu semakin menambah ketidak-perempuan-an dalam dirinya.

 

“Alan, aku suka sama kamu.” Katanya kemarin, ditengah perjalananku dari supermarket. Motornya menghadangku. Aku melengos. Menepi, lewat disampingnya tanpa menengok padanya lagi.

Dia turun dan mengejarku. Dalam sekejap tanganku telah ditariknya.

“Alan!”

“Apa sih, Yui?!” Aku menghempaskan tangannya. Tak kalah keras dengan tarikan tangannya tadi.

“Aku suka sama kamuuu.”

Pfiuhh. Aku menghembuskan nafas, berat. Ini yang ketiga kalinya.

“Kamu lihat itu, Yui.” Aku menunjuk pada siluet bayangan kami di cermin besar rumah diseberang jalan. “Kau sungguh bukan tipeku. Kamu kurang cantik, owh, well, kamu tidak cantik.”

“Apakah aku harus cantik untuk suka sama kamu?” Katamu membesarkan mata.

Oh, jelas, jawabku dalam hati. Look how good I am.

“Aku suka perempuan cantik.”

“Sesuka apa?”

“Lebih suka dari apapun juga.”

“Begitu?”

“Ya.”

Yui memiringkan kepala, bibirnya melebar membentuk senyum.

“Kata mama aku cantik.”

“BWAHAHAHA. Semua mama akan mengatakan bahwa anak perempuannya cantik. Ah, kau ini.” Aku tidak dapat menahan tawa sinisku. Sekejap kemudian tawaku berhenti, aku langsung membalikkan badan dan pergi. Dalam hati, aku menghitung mundur sampai Yui berteriak – teriak dan memanggilku lagi seperti biasa ketika aku menolaknya.

 

Satu, dua, tiga…

 

Aha! Tidak ada teriakan. Tidak seperti biasanya. Okay, Yui, Cukup sakit hati kah kau sekarang?

Read the rest of this entry »

Filed under: art and literature, , ,

Tweets

Blog Stats

  • 9,405 hits