l i t t l e f l o w 3 r …

Icon

..he said, i am sweet like an orange..

Harmony (A Short Story)

#Sebuah klub malam.

“Ai. Lima menit lagi. Okay?” Seorang laki-laki melongok dari balik gordin. Perempuan yang dipanggil Ai itu tidak beranjak dari cermin; Ia memberi anggukan yang terefleksi pada cermin sebagai jawabannya.

Perempuan itu kembali berkutat dengan cermin. Menggulung sebagian rambutnya dengan jemari, menciptakan riak gelombang. Sejurus kemudian ia berdiri anggun, berjalan angkuh.

Ia terlihat seperti seorang putri.

Raut keangkuhan berganti dengan kerlingan mata ketika tubuh semampainya berhenti ditengah panggung. Ia melepaskan cardigannya perlahan, menyisakan gaun merah panjang tanpa lengan yang membalut sebagian tubuhnya. Tubuhnya bergerak pelan, mulutnya melantunkan lagu, berdendang ceria.

Perempuan itu membuka mata, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan. Seorang pria setengah baya yang sedari tadi memelototi dirinya, oh well, tubuhnya. Pria gemuk dan wanita kurus tinggi dengan muka tirus dan bibir yang terlalu merah. Perempuan-perempuan cantik dan oh… pelacur laki-laki?

Ai tidak dapat menahan matanya untuk melihat ke wajah laki-laki itu. Muda. Tampan. Tangan kanannya melingkar di bahu salah seorang perempuan yang mengelilinginya. Tangan satunya memegang gelas berisi minuman berwarna merah.

Coca cola? Ai tertawa kecil.

Di detik yang sama, Putra – nama laki-laki itu, menangkap sepasang mata yang tengah menatapnya. Sepasang mata milik Ai.

Hmm, orang cina? Putra mendapati bahwa sepasang mata yang memandanginya terlalu sipit untuk ukuran orang Indonesia.

Ai kembali fokus pada panggungnya. Kembali bernyanyi ceria, kembali mengerling. Meskipun sepasang mata kini mengganggunya, perempuan itu tetap berdendang, tetap bergoyang.

#Sebuah Klenteng di Bukit

Matahari pagi menuruni bukit. Sekawanan kabut berlarian, ketakutan, dan sekejap kemudian jatuh di pelukan dedaunan menjelma embun. Tanpa terburu-buru, Ai melewati anak tangga semen menuju ke bangunan yang ada diatasnya. Embun menitik di keningnya. Sebuah kelenteng dominan merah, dengan liukan-liukan naga putih pada setiap ujungnya. Kelenteng itu semarak dengan berbagai pemandangan disekitarnya. Pagar-pagar merah. Daun-daun pisang menguning. Batu besar berlumut. Lampion-lampion bergantungan, merah.

Ai sedikit mengangkat gaunnya yang menyeret tanah dengan satu tangan, sebelah tangannya menjinjing keranjang bambu kecil. Ia berhenti di tempat persembahyangan utama, tangannya menyajikan kue-kue dari dalam keranjangnya untuk para dewa. Sejurus kemudian Ia meletakkan lututnya dengan khusyuk, memejamkan mata. Bersembahyang. Hari ini adalah Cap Go Me. *

Ai membuka mata tiba-tiba. Tubuhnya merasakan ada orang lain didekatnya. Matanya melihat seorang laki-laki duduk membelakanginya, mulutnya mengunyah kue yang baru saja ia persembahkan untuk dewa.

“HEI! Apa yang kamu lakukan?!” Ai berusaha merebut kue tersebut. Tangan laki-laki itu menghindar dengan cepat.

Kemudian ia melanjutkan mengunyah dengan santai, “Toh, dewa tidak akan memakannya kan?”

Ai mengerutkan keningnya. Dia laki-laki yang bertatapan dengannya kemarin malam.

Ai kembali pada dewa. Memejamkan mata.

“Hei..”

“….Bukannya kamu bisa berdoa di rumah? Kenapa ke sini? Sepagi ini?” Laki-laki itu, Putra, mendekatkan wajahnya tepat didepan Ai. Memandanginya.

Benar-benar Cina, batinnya.

Ai membuka mata, menjauhkan wajahnya dari hadapan Putra dengan angkuh. “Aku tidak punya rumah.” Ia beranjak. Putra mengikutinya menuruni tangga kelenteng.

“Kau tidak punya rumah? Haa! Bukannya semua orang Cina kaya?”

“Tidak semua orang Cina kaya.”

Ai mempercepat langkah, dengan kedua tangan menggenggam ujung gaunnya. Hati perempuan itu berjalan lebih cepat daripada kakinya. Ia menginjak ujung gaunnya yang menyeret tanah yang tidak berhasil ia selamatkan dengan genggaman tangan. Tubuhnya melayang. Tangannya refleks menggapai mencari pertolongan.

Tangan itu menemukan tangan Putra.

“Kita duduk disitu?” Putra menunjuk pavilyun kecil didepannya.

Ai duduk dengan risih. Mata laki-laki itu tidak bisa lepas dari wajahnya.

“Kau benar-benar tidak punya rumah?”

“Aku tidak akan berdoa disini kalau aku punya rumah.”

“Hmm.. aku tidak tahu ya tentang bagaimana orang Cina berdoa pada waktu Imlek. Kupikir akan lebih manjur kalau kita berdoa dirumah ibadah.”

Ai diam.

“Lalu dimana kamu tinggal?”

“Di klub itu.”

“Diklub ITU? Maksudmu… di klub yang ITU?? Ya Tuhan… kau benar-benar miskin?”

Ai mengerutkan wajahnya marah, sebal, “Kau bilang aku miskin sekali lagi, kutendang kau.”

Putra terbahak-bahak, “Kenapa memang? Malu?”

“Aku cuma tidak mau dibilang miskin oleh orang yang juga miskin.” Ai mengangkat alisnya, merasa menang. Ia melanjutkan kata-katanya, “Orang kaya tidak akan minum cocacola ketika menemani tamunya di bar. Mereka tidak membayar minumanmu?”

Mata Putra melebar.

“Aku sedang diet.”

Ai tidak dapat menahan tawanya.

Sekawanan burung terbang tiba-tiba. Mereka bersuara gaduh, melengkapi suara surga tawa perempuan itu.

“Kamu jelek kalau tertawa.” Putra menunjukkan tampang jijik.

Ai mengerutkan keningnya sebal.

“Tapi kamu cantik ketika marah,” Putra tersenyum jenaka.

“Putra.” Putra mengulurkan tangan, tersenyum lebih manis.

Ai hanya memandang tangan itu.

“Airi,” Ai mengucapkan namanya dengan pelan, tegas, sambil mengalihkan pandangannya perlahan ke arah matahari yang mulai muncul.

Putra menangkap tangan Ai paksa, “Kamu perlu diajari sopan santun ternyata.”

Ai memandang jari-jari dua tangannya yang dipeluk erat oleh kedua tangan laik-laki itu. Ai merasakan panas mengalir ditubuhnya; panas yang tidak bisa ia terjemahkan. Dari matahari kah? Atau dari panas kedua tangan yang menggenggam tangannya?

Matahari semakin meninggi. Sinarnya yang kekuningan menerpa kulit kedua anak manusia itu. Tidak ada suara. Masing-masing menikmati sinar itu merasuki kulit mereka, menghangatkan jantung yang berirama pelan.

Beberapa orang melewati mereka. Hari mulai siang, kelenteng mulai ramai.

Airi dan Putra beranjak, berjalan beriringan menuruni klenteng diatas bukit itu. Lampion-lampion merah berayun-ayun jauh dibelakang mereka.

“Aku tadi bohong,”

“Ohya? Yang mana? Yang tentang aku jelek kalau tertawa?” Ai tersenyum lebar, hampir tertawa.

“Haha….”

“…aku minum cocacola karena tidak mau mereka memotong bayaranku untuk minuman yang lain yang lebih mahal.”

Ai berhenti melangkah.

“Kamu… semiskin itu?” Ai melebarkan matanya.

“Aku tidak mau dibilang miskin oleh orang yang juga miskin.” Putra berkata datar, tetap dengan gaya jenaka. Ai menyipitkan matanya yang sipit, bergaya mengancam. Perempuan itu tidak dapat menahan senyumnya.

“Ai.. nanti sore lihat barongsai yuk.”

“Tidak mau.”
“Kenapa? Takut?”

“Tentu saja tidak. Aku bukan anak kecil,” Ai menyipitkan satu matanya.

“Terus? Malu ketemu sama aku lagi?”

“Aku TIDAK mau ketemu sama kamu lagi Puuutraaa.” Ai berkata gemas. Ai beranjak pergi, berlalu.

“Datang ya. Orang Cina harus datang lihat barongsai!” Teriak Putra.

Ai tidak menoleh. Ai tidak ingin laki-laki itu melihat bahwa ia sedang tersenyum.

#Pentas Barongsai

Suasana hingar bingar.

Ai terjebak dalam suasana itu.

Sore mulai mendingin. Ai bersandar di batang sebuah pohon akasia di tepi jalan. Sepuluh menit lagi dan ia belum sekejap pun melihat sosok Putra.

Ai tidak ingin mencari Putra, karena seharusnya laki-laki itu ada disini tanpa ia harus mencarinya. Pandangannya menyapu sekeliling, ia menemukan banyak orang Cina disekitarnya. Tak satupun dikenalnya.

Musik khas yang mengiringi tarian barongsai mulai terdengar. Tarian barongsai dimulai. Memenuhi bumi dengan hentakan kaki penari, memenuhi langit dengan musik yang tak pernah membuat sepi hati.

Ai masih bersandar di pohon, ia menegakkan badannya mencoba melihat tarian itu dari pinggir sekawanan manusia yang membentuk lingkaran. Tarian sudah dimulai dan Putra belum menghampirinya. Perempuan itu sudah berhenti berharap. Ia tak ingin melihat pertunjukan itu lagi.

Beberapa menit berlalu, dan salah satu barongsai berwarna merah melompat tinggi, berayun dengan indah di udara. Tubuh barongsai tersebut berdiri vertikal, dan sejenak menghentakkan kaki; secepat kilat menyapu udara diatasnya. Sekali lagi menghentak bumi, dan terbang berputar di udara seperti seekor naga api.

Ai dapat melihatnya dengan jelas ketika barongsai itu berputar di udara.

Ai bergegas menyeruak kerumunan lingkaran itu. Ada sesuatu menarik hatinya.

Ai terus berjalan ke depan, sedikit memaksa kerumunan itu untuk memberi jalan baginya. Ia ingin berada paling depan dalam lingkaran itu.

Barongsai berwarna merah berputar dan berhenti tepat didepan Ai ketika perempuan itu baru sampai di bagian paling depan kerumunan. Ai tersentak ke belakang.

Barongsai itu berputar pelan membentuk lingkaran kecil didalam lingkaran besar manusia itu. Semakin lama semakin cepat, dan tiba-tiba Ai tersentak terbawa tepat ke tengah lingkaran itu. Barongsai itu menariknya.

Si penari di dalam barongsai itu menariknya.

Ai terkejut dan berusaha kembali ke tempatnya semula. Barongsai itu mengelilingi, menahannya untuk kembali ke tempatnya.

Satu tangan muncul dari dalam kostum barongsai dan menariknya lagi, membawa tubuhnya mendekati mulut barongsai itu.

“Ayo kita menari.”

Ai mendengar bisikan itu. Satu mata Putra berkedip dari dalam mulut barongsai itu.

Ai masih tidak bisa berkata-kata, tubuhnya terhempas oleh tarikan tangan Putra dari dalam barongsai. Tubuhnya menari seirama dengan gerakan-gerakan barongsai yang mulai melembut.

Ai mulai menikmatinya. Ia tertawa-tawa. Tubuhnya ikut menari riang. Dengan tawa lepas. Tanpa kerlingan palsu seperti ketika ia menari di klub malam tempatnya bekerja.

Barongsai merah berhenti menari dan berjalan ke pinggir kerumunan. Putra keluar dari kostum itu, menarik tangan Airi mengajaknya berlari. Putra terus menarik tangan Airi menembus kerumunan lingkaran manusia itu.

Mereka berdua tertawa-tawa, sambil terus berlari meninggalkan hingar-bingar itu.

“Hahaha… Kau gila Putra!” Ai terengah-engah. Mereka berhenti dilapangan yang terang. Bintang-bintang, malam ini menjelma menjadi jutaan lampu yang menerangi bumi dengan cahaya kecilnya.

Putra merebahkan tubuhnya dan Ai duduk disampingnya. Kedua telapak tangannya menyandar tanah, menahan tubuhnya.

“Ohya? Kau lebih gila kalau begitu!”

“Kamu kok bisa jadi penari barongsai juga?”

“Aku kerja apa saja, Ai. ”

“Haha.. dasar pelacur. Kau selalu menjual tubuhmu.”

“HEII.. itu konotasinya jelek. Aku hanya menemani perempuan-perempuan itu, catat ya, hanya MENEMANI..”

“….dan juga menggendong mereka ke hotel kalau mereka mabuk dan menemaninya sampai pagi.” Potong Ai sinis.

“Kenapa? Cemburu?” Putra menggodanya.

Ai tidak bereaksi. Ia berkata pelan. “Kita sama-sama menjual diri.” Suaranya berubah sedih.

“Juga sama-sama miskin.” Putra langsung menyahut kocak.

Ai mulai tersenyum lagi.

“Airi, kamu boleh tinggal dirumahku.”

Ai menoleh bingung mendengar suara serius itu. Putra duduk disampingnya sekarang.

Putra membaca kebingungan itu. Ia berkata lagi, “Maksudku, kita bisa hidup bersama.”

Ai memiringkan kepala. Semakin tidak mengerti.

“Maksudku, ayo kita menikah.” Laki-laki itu mulai gugup.

Ai memandang langit dengan tatapan yang tidak Putra ketahui sedikitpun maksudnya.

“Kau serius?” Ai berkata tegas.

“Kau tahu, Ai? Aku sudah jatuh cinta denganmu sejak di klub malam itu.”

Ai masih tidak memandangnya. Ia menjawab, “Aku tahu.”

“Kamu tahu?” Putra terkejut.

Ai mengangguk, memandang ke arah Putra. Ia berkata lagi, “Karena aku juga jatuh cinta denganmu sejak di klub itu.”

Mereka berpandangan, dengan cara seperti ketika mata mereka pertama kali bertemu di klub malam itu. Namun, kali ini tidak hanya satu detik. Berdetik-detik terus mengalun tanpa tahu berapa lama dan untuk apa. Detik yang tentu saja tidak akan pernah kembali—namun terekam entah dimana; mungkin di otak; mungkin di hati.

Sekali lagi tubuh keduanya menghangat, hangat yang kali ini jelas diketahui sumbernya.

Bukan hangat matahari, karena di malam hari kita tidak dapat menemukan matahari.

Hangat yang tercipta dari keduanya.

“Ini untukmu.”

“Apa itu?”

“Angpau. Dasar bodoh. Jelas gitu.”

“Isinya?”

“Uang. Kamu kan miskin, Ai.”

“Kamu lebih miskin.”

“Haha.. kita sama-sama miskin. Sudahlah, ayo kita pulang.” Putra berdiri, menawarkan tangannya ke perempuan yang masih duduk disampingnya.

Ai menyambut tangan itu.

Semakin malam, semakin terang. Dan sebentar lagi pagi datang. Matahari mengusir kabut hingga turun dan menetes menjadi embun.

Hidup berputar lagi, terus berputar, berputar, dan menciptakan harmoni yang abadi.

- April, 2011. Happy (Chinese) New Year! Saya suka orang cina :)

Filed under: art and literature, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s